Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

BAB I
FILSAFAT PENDIDIKAN
1. What is Philosopy ?
Kata filsafat atau falsafat, berasal dari bahasa Yunani. Kalimat ini berasal dari kata  philoshophia yang berarti cinta pengetahuan. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, senang, suka dan kata sophia berarti pengetahuan, hikmah dan kebijaksanaan. Hasan Shadily mengatakan bahwa filsafat menurut arti katanya adalah cinta akan kebenaran. Dengan demikian dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa filsafat adalah cinta kepada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah dan kebijaksanaan. Jadi orang yang berfilsafat adalah orang yang mencintai akan kebenaran, berilmu pengetahuan, ahli hikmah dan bijaksana.
Menurut Hasan Shadily ( 1984: 9 ) Menyatakan bahwa Filsafat adalah Cinta pada Ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada Hikmah dan kebijaksanaan. Jadi ornag yang berfilsafat adalah orang yang mencintai Kebenaran, Berilmu Pengetahuan,ahli hikmah dan bijaksana.
Harlus Titus Mengemukakan pengertian Filsafat sebagai berikut:
Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara kritis.
Filsafat ialah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi.
Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan.
Filsafat ialah analisis logis dari bahasan dan penjelasan tentang arti konsep
Filsafat adalah sekumpulan problema-problema yang langsung mnedapat perhatian manusia dan dicarikan jawabannya oleh ahli filsafat.
Notonegoro  menyatakan bahwa filsafat adalah menelaah hal-hal yang dijadikan objeknya dari sudut intinya yang mutlak, yang tetap tidak berubah , yang disebut hakekat.
Driyakarya  menyatkan bahwa filsafat adalah sebagai perenungan yang sedalam-dalamnya tentang sebab-sebabnya ada dan berbuat, perenungan tentang kenyataan yang sedalam-dalamnya sampai “mengapa yang penghabisan.
Prof.Dr.Ismaun, M.Pd menyatakan Filsafat ialah usaha pemikiran dan renungan manusia dengan akal dan qalbunya secara sungguh-sungguh , yakni secara kritis sistematis, fundamentalis, universal, integral dan radikal untuk mencapai dan menemukan kebenaran yang hakiki (pengetahuan, dan kearifan atau kebenaran yang sejati.

2. What is Education ?
Pada dasarnya pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Menurut kamus Bahasa Indonesia Kata pendidikan berasal dari kata ‘didik’ dan mendapat imbuhan ‘pe’ dan akhiran ‘an’, maka kata ini mempunyai arti proses atau cara atau perbuatan mendidik. Secara bahasa definisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusiamelalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia) menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu: Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
Menurut UU No. 20 tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
Sedangkan pengertian pendidikan menurut H. Horne, adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada vtuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia. Dari beberapa pengertian pendidikan menurut ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan adalah Bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain.
3. What is the Philosopy of Education ?
Menurut Al-Syaibany, filsafat pendidikan adalah aktivitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan, dan memadukan proses pendidikan. Menurut John Dewey, filsafat pendidikan merupakan suatu pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik yang menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan (emosional), menuju ke arah tabi’at manusia, maka filsafat bisa juga diartikan sebagai teori umum pendidikan. Barnadib (1993 : 3) mempunyai versi pengertian atas filsafat pendidikan, yakni ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam bidang pendidikan. Menurut  seorang ahli filsafat Amerika Brubachen , filsafat pendidikan adalah seperti menaruh sebuah kereta di depan seekor kuda, dan filsafat dipandang sebagai bunga, bukan sebagai akar tunggal pendidikan.
Dalam pengertian ini, pengungkapan bahwa filsafat pendidikan adalah filsafat terapan, yaitu hasil ketika cara pandang filsafat masuk dan mengambil objek pendidikan, menjadi pandangan yang keliru, terutama jika ia dilihat secara geneologis, terutama karena hal itu melahirkan kesan makna bahwa pendidikan adalah sesuatu hal yang sepenuhnya terpisah dari filsafat atau ia berada di luar filsafat. Oleh karena itu, jika filsafat pendidikan kita konsesi mesti didefinisikan sebagai filsafat terapan, dasar pijakan bersifat metodis di satu sisi. Sedangkan, di sisi yang lain, ia menegaskan bahwa pendidikan adalah sesuatu hal yang dipandang sebagai bidang yang sepenuhnya bukan filsafat atau di luar filsafat.
Dalam pengkritisan tersebut, istilah “filsafat pendidikan” selalu menjadi hal yang hanya bisa diterima dalam pengandaian metodis guna menunjuk upaya-upaya cara pandang filsafat untuk mengkaji ruang pendidikan atau tepatnya ruang upaya menusia secara umum di dalam membangun hidup dan kehidupannya untuk menjadi semakin baik dan berkualitas.
Pengandaian metodis ini terpahami terutama kerena proses pelaksanaan upaya manusia secara umum di dalam membangun hidup dan kehidupannya untuk menjadi semakin baik dan berkualitas lebih sering berlangsung jauh dari nilai-nilai ideal yang diharapkan. Dalam berbagai kasus, upaya tersebut justru bermakna sebaliknya, yaitu semakin menjauhkan hidup manusia, baik secara individu ataupun kolektif dari tata hidup dan kehidupan yang baik dan berkualitas. Dalam rialitas lapangan, ironi-ironi kontraproduktif tersebut menjadi dengan begitu sangat nyata sehingga ia bahkan tidak lagi membutuhkan argumentasi apa pun untuk membuktikannya. Penyelenggaraan pendidikan menjadi penyebab utama dari lahirnya dehumanisasi. Secara ideal, pendidikan ingin membuat manusia menjadi bermoral. Akan tetapi, dalam praktiknya, pendidikan terisi dan berlangsung dengan cara-cara yang justru bertentangan dengan nilai-nilai moral yang dicita-citakan. Dalam konteks problem seperti inilah dunia modern kemudian mengenal istilah “filsafat pendidikan”, yaitu filsafat yang secara seksama bermaksud melihat tentang apa, mengapa, dan bagaimana pendidikan dalam pengertian-pengertian lebih mendasar dan genuine sehingga proses penyelenggaraan pendidikan yang ada di lapangan dapat kembali menemukan makna urgensitasnya dalam hidup yang ada.
Hingga di sini, secara definitif, filsafat pendidikan tidak lain adalah penerapan upaya metodis filsafat untuk mempersoalkan konsepsi-konsepsi yang melandasi upaya-upaya manusia di dalam membangun hidup dan kehidupannya untuk menjadi semakin baik dan berkualitas. Sedangkan, tujuan upaya-upaya filsafat dalam mempersoalkan adalah guna mengarahkan menyelenggarakan pendidikan pada kondisi-kondisi etika yang diedialkan. Dalam makana lain, filsafat pendidikan adalah falsifikasi pendidikan, baik dalam makan teoritis konseptual maupun makna praktis-pragmatis yang menggejala.
Daftar Pustaka
Saifullah, Ali, Antara Filsafat dan Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya: 1997.
Umar Muhammad Al Toumy Al Syaibani, Filsafat Pendidikan Islam, Surabaya: Bulan Bintang, 1979.
Prof. Dr. H. Jalaluddin, Filsafat Pendidikan, Manusia, Filsafat dan Pendidikan, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010.

BAB I
FILSAFAT PENDIDIKAN
1. What is Philosopy ?
Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan. Filsafat memiliki kedudukan yang penting dalam kehidupan, yakni sebagai upaya sadar untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan manusia.
Ciri-ciri berfikir filsafat:
a) Berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi.
b) Berfikir secara sistematis.
c) Menyusun suatu skema konsepsi, dan
d) Menyeluruh.
Manusia adalah salah satu jenis makhluk hidup yang menjadi anggota populasi permukaan bumi ini. Secara fisik, manusia berada pada tataran spesies yang sama dengan hewan mamalia. Hal itu dikarenakan, ciri-ciri manusia hampir sama (atau bahkan sama) dengan hewan jenis mamalia. Akan tetapi menurut karakter dan sifatnya, manusia bisa dikategorikan ke dalam homo sapiens, homo feber, atau homo ludens. Pun manusia juga bisa menjadi makhluk individu ataupun makhluk sosial. Semua itu dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mencapai tujuannya.

2. What is Education ?
Adapun pendidikan berasal dari kata “didik” yang mendapat imbuhan me-, yang artinya memelihara dan memberi latihan. Selanjutnya, pengertian pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan secara kognitif, mental, dan psikologi. Padahal, manusia telah Dalam pengertian yang agak luas, pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. Akan tetapi, Poerbakawatja dan Harahap, pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si anak ke kedewasaan yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril dari segala perbuatannya.
Dari berbagai definisi yang berbeda-beda tersebut, ada satu hal yang menghubungkan kesemuanya, yaitu pencapaian tujuan. Tujuan itu bermacam macam. Ada yang bertujuan memelihara, memberi latihan, memperoleh pengetahuan, pendewasaan, dan lain-lain.

3. What is the Philosopy of Education ?
Ada hubungan yang erat antara filsafat, manusia, dan pendidikan. Hubungan tersebut dilihat dari berbagai aspek, misalnya objek kajiannya manusia. Filsafat berarti berpikir mendalam oleh manusia. Manusia mampu berfilsafat di bidang yang dia kuasai. Salah satu kajian filsafat adalah pendidikan. Inilah keterkaitan antara ketiga hal tersebut. Tujuan pendidikan merupakan bentuk pengkhususan dari tujuan hidup manusia. Adapun berfilsafat merupakan upaya untuk penyelesaian maupun pemecahan masalah terkait manusia, pendidikan, kesehatan, agama, dan sebagainya. Masalah-masalah yang dialami manusia akan dipikirkan secara mendalam (berfilsafat) untuk kemudian dicapai penyelesaian.
Berbagai pengertian (definisi) tentang Filsafat Pendidikan yang telah dikemukakan oleh para ahli, Al-Syaibany mengartikan bahwa filsafat pendidikan ialah aktifitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat tersebut sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan. Artinya, bahwa filsafat pendidikan dapat menjelaskan nilai-nilai dan maklumat-maklumat yang diupayakan untuk mencapainya, maka filsafat pendidikan dan pengalaman kemanusian merupakan faktor yang integral atau satu kesatuan. Sementara itu, filsafat juga didefinisikan sebagai pelaksana pandangan falsafah dan kaidah falsafah dalam bidang pendidikan, falsafah tersebut menggambarkan satu aspek dari aspek-aspek pelaksana falsafah umum dan menitik beratkan kepada pelaksanaan prinsip-prinsip dan kepercayaan yang menjadi dasar dari filsafat umum dalam upaya memecahkan persoalan-persoalan pendidikan secara praktis. Barnadib mempunyai versi pengertian atas filsafat pendidikan, yakni ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam bidang pendidikan. Karenanya, dengan bersifat filosofis, bermakna bahwa filsafat pendidikan merupakan aplikasi sesuatu analisa filosofis terhadap bidang pendidikan.
Berikut ini, beberapa pengertian filsafat pendidikan menurut para ahli:
    Muhammad Labib al-Najihi: Filsafat pendidikan adalah suatu aktivitas yang teratur yang menjadikan filsafat itu sebagai jalan mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan.
    Kilpatrik dalam Buku Philosophy of Education menyebutkan "Philisophizing and education are, then, but two stages of the same endeavo; Philisophizing to think out better values and idealism, education to realize these in life, in human personality. Education acting out of the best direction philosophizing in can give, tries and beginning primarly wit h the young, t o lead people to build critrised values to their characters, and in this way to get the highest ideals of philosophy progressively embodied in their lives." Berfilsafat dan mendidik adalah dua fase dalam satu usaha. Berfilsafat adalah memikirkan dan mempert imbangkan nilai-nilai dan cita-cita yang lebih baik, sedangkan mendidik ialah usaha merealisasi nilai-nilai dan cita-cita itu didalam kehidupan dan dalam kepribadian manusia. Mendidik ialah mewujudkan nilai-nilai yang disumbangkan filsafat, dimulai dengan generasi muda, untuk membimbing rakyat membina nilai-nilai di dalam kepribadian mereka, dan melembagakannya dalam kehidupan mereka.
    John Dewey memandang pendidikan sebagai suatu proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan (emotional) menuju kearah tabi’at manusia, maka filsafat juga dapat diartikan sebagai teori umum pendidikan (Democracy and Educat ion, p. 383)
    Prof. Brameld berkata tentang pengertian filsafat pendidikan : That is, we should bring philosophy to bear upon the problems of education as effiently…Kita harus membawa filsafat guna mengatasi persoalan-persoalan pendidikan secara efisien, jelas, dan sistematis sedapat mungkin…). Van Cleve Morris menyatakan : “Secara ringkas kita mengatakan bahwa pendidikan adalah studi filosofis, karena ia pada dasarnya, bukan alat social semata untuk mengalihkan cara hidup secara menyeluruh kepada setiap generasi, akan tetapi ia juga menjadi agen (lembaga) yang melayani hati nurani masyarakat dalam perjuangan mencapai hari depan lebih baik (Van Cleve Morris, Becamingan Education, p.57 dalam buku Filsafat Pendidikan Islam, Prof HM. Arifin, Med, p. 3)

Daftar Pustaka
Jalaluddin dan Idi, Abdullah, filsafat pendidikan, Gaya Media Pratama, Jakarta: 2002
Munawwaroh, Djunaidatul dan Tanenji, Filsafat Pendidikan (perspektif islam dan umum), UIN Jakarta Press, Jakarta: 2003
Prasetya, Filsafat Pendidikan Untuk IAIN, STAIN,PTAIS, Penerbit Pustaka Setia, Bandung: 1997
http://home.comcast.net/~DiazStudents/GreecePhilosophers.jpgPEMIKIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN MENURUT SOCRATES (470-399 SM)
Pada titik waktu ini dalam sejarah filsafat muncullah salah seorang pemikir besar kuno (470-399 SM) yang mana gagasan-gagasan filosofisnya dan metode pengajarannya ditunjukan untuk mempengaruhi secara mendalam dan abadi terhadap teori dan praktik pendidikan diselu¬ruh dunia Barat. Socrates yang dilahirkan di Athena, is adalah putra seorang pemahat dan seorang bidan yang hanya sedikit dikenal kecuali nama mereka, yaitu Sophonicus dan Phaenarete (Smith, 1986: 19).
Adapun prinsip-prinsip dasar pendidikan menurut Socrates adalah, metode dialektis, yang digunakan oleh Socrates yang mana telah menjadi dasar teknis pendidikan yang direncanakan untuk mendorong seorang belajar untuk berpikir secara cermat, untuk menguji coba diri sendiri dan untuk memperbaiki pengetahuannya. Seseorang guru tidak memaksa wibawanya atau memaksa gagasan-gagasan atau pengetahuan kepada seorang siswa, yang mana seorang siswa dituntut untuk mengembangkan pemikirannya sendiri dengan berpikir secara kritis, ini adalah suatu metode untuk meneruskan inteleknya dan mengembangkan kebiasaan¬kebiasaannya dan kekuatan mental.
Tujuan pendidikan yang benar menurut Socrates adalah untuk merangsang penalaran yang cermat dan disiplin mental yang akan menghasilkan perkembangan intelektual yang terus menerus dan standar moral yang tinggi (Smith, 1986: 25).
Dengan menggunakan metode mengajar yang dialektis ini Socra¬tes menunjukkan bahwa jawaban-jawaban terbaik atas pertanyaan moral menurut pendapatnya adalah cita-cita yang diajarkan oleh para pendiri¬pendiri agama, cita-cita yang melekat pada ketuhanan, cinta pada umat manusia, keadilan, keberanian, pengetahuan tentang kebaikan dan keja¬hatan, hormat terhadap kebenaran, sikap yang tak berlebih-lebihan, kebaikan hati, kerendahan hati, toleransi, kejujuran, segala kebajikan¬kebajikan lama. Salah satu pendirian Socrates yang terkenal bahwa kekuatan utar—i adalah pengetahuan. Jadi bagi Socrates yang terkenal, adanva pendidikan sudah membuktikan bahwa keutamaan tidak dapat diajarkan dan pendidikan tidak mungkin dijalankan.
Seruan alternatif Socrates ditujukan pada kemampuan manusia untuk berpikir menertibkan, meningkatkan dan mengubah dirinya. Pengetahuan, la menyatakan adalah kebajikan; orang yang sekedar tidak berpura-pura saja terhadap cita-cita teoritis, tetapi sungguh-sungguh mengetahui dan mengerti apa yang benar, karena ia telah mengalami dan menyadari konsekuensi-konsekuensi akan berbuat apa yang benar.
Cara mengajar Socrates pada dasarnya disebut dialekta, yang disc¬babkan dalam pengajaran itu dialog memegang peranan penting (Hadiwijono, 1980: 36).
Socrates tidak seperti Plato, ia tidak membangun suatu sistem filsafat yang luas, tidak pernah menggali secara mendalam bidang psi¬kologi, emosi, motivasi, kebiasaan dan aspek-aspek dari proses pengetahuan tersebut. Namun demikian la telah membuat suatu permu¬laan yang besar dalam membangun konsepsi-konsepsi dan metode-metode yang lebih luas, lebih sungguh-sungguh dan lebih efek¬tif. Dalam pendidikan Socrates mengemukakan sistem atau cara berpikir yang bersifat induksi, yaitu menyimpan pengetahuan yang bersifat umum dengan berpangkal dari banyak pengetahuan tentang hal khusus.

PEMIKIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN MENURUT PLATO (427-347 SM)
Plato adalah murid Socrates yang paling terkemuka yang sepenuh¬nya menyerap ajaran-ajaran pendidikan besar itu, kemudian mengembangkan sistem filsafatnya sendiri secara lengkap. la mendiri¬kan sebuah akademi, suatu pusat untuk studi.
Plato, dilahirkan dalam keluarga Aristokrasi yang kaya (mungkin di Athena disekitar tahun 427 SM).
Plato kehilangan ayahnya Ariston, mengaku keturunan dari Codus yang pernah berkuasa abad ke-7 SM sebagai raja terakhir dari Athena. Ibu Plato Perictions adalah keturunan keluarga Solon, seorang pembuat undang-undang, penyair, memimpin militer dari kaum ningrat dan pendiri dari demokrasi Athena terkemuka (Smith, 1986: 29).
Bagi Plato, Pendidikan itu adalah suatu bangsa dengan tugas yang harus dilaksanakan untuk kepentingan negara dan perorangan, pendi¬dikan itu memberikan kesempatan kepadanya untuk penampilan kesanggupan diri pribadinya. Bagi negara, dia bertanggung jawab untuk memberikan perkembangan kepada warga negaranya, dapat berlatih, terdidik dan merasakan bahagia dalam menjalankan peranannya buat melaksanakan kehidupan kemasyarakatan (Ali, 1993: 60).
Menurut Plato di dalam negara idealnya pendidikan memperoleh tempat yang paling utama dan mendapat perhatian yang paling khusus bahkan dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah tugas dan panggilan yang sangat mulia yang harus diselenggarakan oleh negara. Pendidikan itu sebenarnya merupakan suatu tindakan pembebasan dari belengggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran. Dengan pendidikan, orang-orang akan mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar. Dengan pendidikan pula, orang-orang akan mengenal apa yang balk dan apa yang jahat, dan juga akan menyadari apa patut dan apa yang tidak patut, dan yang paling dominan dari semua itu adalah bahwa pendidikan mereka akan lahir kembali (they shall be born again) (Raper, 1988: 110).
Dengan demikian jelaslah pula bahwa peranan pendidikan yang paling utama bagi manusia adalah membebaskan dan memperbaharui. Pembebasan dan pembaharuan itu akan membentuk manusia utuh, yakni manusia yang berhasil menggapai segala keutamaan dan moralitas jiwa mengantarnya ke idea yang tinggi yaitu kebajikan, kebaikan dan kea¬dilan. Cita-cita Plato yang paling agung terus digenggamnya sampai akhir hayatnya.
Tujuan pendidikan menurut Plato adalah untuk menemukan ke¬mampuan-kemampuan ilmiah setiap individu dan melatihnya sehingga ia akan menjadi seorang warga negara yang balk, dalam suatu masyarakat yang harmonis, melaksanakan tugas-tugasnya secara efisien sebagai seorang anggota kelasnya. Plato juga menekankan perlunya pendidikan direncanakan dan diprogramkan sebaik-haiknya agar mampu mencapai sasaran yang diidamkan. Dengan kata lain pendidikan yang baik haruslah direncanakan dan diprogramkan dengan baik agar dapat berhasil dengan baik untuk menunjang rencana propaganda dan sensor.
Propaganda perlu untuk menanamkan program pendidikan itu, pemerin¬tah harus mengadakan motivasi, semangat loyalitas, kebersamaan dan kesatuan cinta akan kebaikan dan keadilan.
Adapun hal yang terlewatkan oleh Plato dalam bidang pendidikan adalah mengenai pendidikan dasar dan pendidi-kan untuk kelas penghasil yang satu-satunya kelas dalam golongan karya yang sebenarnya merupakan golongan terbesar dalam negara. Menurut Plato pendidikan direncanakan dan diprogram menjadi tiga tahap dengan tingkat usia, tahap pertama adalah pendidikan yang diberikan kepada taruna hingga sampai dua puluh tahun; dan tahap kedua, dari usia dua puluh tahun sampai tiga puluh tahun; sedangkan tahap ketiga, dari tiga puluh tahun sampai usia empat puluh tahun.

PEMIKIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN MENURUT ARISTOTELES (367-345 SM)
Aristoteles adalah murid Plato. Dia adalah seorang cendekiawan dan intelek terkemuka, mungkin sepanjang masa. Umat manusia telah berhutang budi padanya karena banyaknya kemajuan dalam filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan, khususnya Logika, Metafisika, Politik, Ethika, Biologi dan Psikologi. Aristoteles dilahirkan dalam tahun 394 SM di Stagira sebuah kota kecil di semenanjung Chalcidice yang menonjol disebelah barat Laut Egea. Ayahnya, Nichomachus yang sebagai dokter merawat Amyntas II, raja Macedonia, mengatur agar Aristoteles menerima pendidikan yang lengkap pada awal mass kanak-kanak dan mungkin kemudian mengajar dalam pengamatan gejala-gejala penyakit dan teknik-teknik pembedahan. Balk ayah maupun ibunya, Phaesta, mempunyai nenek moyang terkemuka.
Menurut Aristoteles, agar orang dapat hidup baik, maka ia harus mendapatkan pendidikan. Pendidikan bukanlah soal akal semata-mata, akan tetapi soal memberi bimbingan kepada perasaan-perasaan yang lebih tinggi, supaya mengarah dirt kepada akal, sehingga dapat dipakai akal guna mengatur nafsu-nafsu. Akal sendiri tidak berdaya, ia memer¬lukan dukungan-dukungan perasaan yang lebih tinggi yang diberikan arch yang benar. Aristoteles mengemukakan bahwa pendidikan yang baik adalah yang mempunyai tujuan untuk kebahagiaan. Kebahagiaan tertinggi adalah hidup spekulatif (Barnadib, 1994: 72).
Aristoteles juga menganggap penting pula pembentukan kebiasaan pada tingkat pendidikan rendah, sebagaimans pada tingkat pendidikan usia muda itu perlu ditanamkan kesadaran aturan-aturan moral. Menurut Aristoteles untuk memperoleh pengetahuan manusia harus lebih dari binatang-binatang lain berdasarkan kekuatannya untuk berpikir, harus mengamati dan secara hati-hati menganalisa struktur-struktur, fungsi-¬fungsi organisms itu, dan segala yang ada dalam alam. Oleh karena itu prinsip pokok pendidikan menurut Aristoteles adalah pengumpulan serta penelitian fakta-fakta suatu belajar induktif, 'suatu pencarian yang obyektif akan kebenaran sebagai dasar dari semua ilmu pengetahuan. Ariestoteles berkata bahwa sebaiknya memberikan pendidikan yang baik bagi semua anak-anak. Sparta mempunyai suatu sistem sekolah negeri yang wajib bagi putera-puterinya, bagi semua warga negara, tetapi sistem tersebut terdiri dari pendidikan fisik dan latihan militer.
Dalam rangka yang lebih tinggi, ia nampak setuju dengan Plato tentang nilai-nilai Matematika, Fisika, Astronomi, dan Filsafat. la me¬nyatakan bahwa putra-putri semua warga negara sebaiknya diajar sesuai dengan kemampuan mereka, sesuatu pandangan mereka yang sama de¬ngan doktrin Plato tentang keberadaan individual. Disiplin merupakan pal yang essensial untuk mengajarkan para pemuda dan kaum laki-laki muda untuk mematuhi perintah-perintah dan mengendalikan gerakan hati mereka.
http://ramlannarie.files.wordpress.com/2010/04/238311569958724.jpg

Pendekatan Filosofi Pendidikan

1. Pendekatan filosofis

Pendekatan filosofis terhadap pendidikan adalah suatu pendekatan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan metode filsafat. Pengetahuan atau teori pendidikan yang dihasilkan dengan pendekatan filosofi disebut filsafat pendidikan. Menurut Henderson (1959), filsafat pendidikan adalah filsafat yang diterapkan/diaplikasikan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan.
Cara kerja dan hasil-hasil filsafat dapat dipergunakan untuk membantu memecahkan masalah dalam hidup dan kehidupan, dimana pendidikan merupakan salah satu kebutuhan penting dari kehidupan manusia. Pendidikan membutuhkan filsafat, karena masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan semata, yang hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan muncul masalah yang lebih luas, kompleks, dan lebih mendalam, yang tidak terbatas oleh pengalaman indrawi maupun fakta-fakta faktual, yang mungkin tidak dapat dijangkau oleh sains pendidikan (science of education). Masalah-masalah tersebut diantaranya adalah tujuan pendidikan yang bersumber dari tujuan hidup manusia dan nilai sebagai pandangan hidup manusia. Nilai dan tujuan hidup memang merupakan suatu fakta, namun pembahasannya tidak bisa dengan menggunakan cara-cara yang dilakukan oleh sains, melainkan diperlukan suatu perenungan yang lebih mendalam.
Tujuan pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan pandangan hidup individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan. Pendidikan tidak dapat dipahami sepenuhnya tanpa memahami tujuan akhirnya, sehingga hanya tujuanlah yang dapat ditentukan terlebih dahulu dalam pendidikan. Tujuan pendidikan tersebut perlu dipahami dalam kerangka hubungannya dengan tujuan hidup tersebut, baik yang berkaitan dengan tujuan hidup individu maupun kelompok. Si terdidik maupun pendidik secara pribadi memiliki tujuan dan pandangan hidup sendiri, dan sebagai masyarakat atau warga Negara memiliki tujuan hidup bersama.

Kerangka pendidikan filosofis
Karakteristik pendekatan filosofi, seperti halnya pendekatan sains, dapat dilihat dari objek pengkajian, tujuan pengkajian, dan metode kerja pengkajian. Objek pengkajian pendidikan dengan menggunakan pendekatan filosofi, adalah semua aspek pendidikan tidak terbatas pada salah satu saja. Seluruh aspek pendidikan seperti tujuan pendidikan, isi pendidikan, metode pendidikan, pandidik, anak didik, keluarga, masyarakat, merupakan kajian yang komprehensip dari pengkajian filosofi. Pengkajian seperti ini disebut Pengkajian synopsis, yaitu suatu pengkajian yang bersifat merangkum atau mencakup semua aspek pendidikan.
Tujuan akhir suatu pengkajian filosofi dalam pendidikan adalah merumuskan apa dan bagaimana seharusnya tentang pendidikan. Kajian filosofi berusaha merumuskan apa yang dimaksud dengan pendidikan, bagaimana seharusnya tujuan pendidikan, bagaimana seharusnya kurikulum dirumuskan/disusun. Pengkajian seperti itu disebut pengkajian normatif, karena berkaitan dengan norma-norma, nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan manusia, sehingga pengkajian tersebut harus sampai pada suatu rumusan, apa yang seharusnya terjadi dalam pendidikan yang berlangsung dalam kehidupan.
Metode pengkajian filosofi adalah melalui kajian rasional yang mendalam tentang pendidikan dengan menggunakan semua pengalaman manusia dan kemanusiaannya. Oleh karena itu pengalaman kemanusiaan seseorang dapat diterapkan dalam menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan.

2. Pendekatan religi
Pendekatan religi terhadap pendidikan, berarti bahwa suatu ajaran religi dijadikan sumber inspirasi untuk menyusun teori atau konsep-konsep pendidikan yang dapat dijadikan landasan untuk melaksanakan pendidikan. Ajaran religi yang berisikan kepercayaan dan nilai-nilai dalam kehidupan, dapat dijadikan sumber dalam menentukan tujuan pendidikan , materi pendidikan, metode, bahkan sampai pada jenis-jenis pendidikan.
Metode yang dipergunakan dalam menyusun teori/konsep pendidikan adalah tesis deduktif. Dikatakan tesis, karena bertolak dari dalil-dalil atau aksioma-aksioma agama yang tidak dapat kita tolak kebenarannya. Dikatakan deduktif, karena teori pendidikan disusun dari prinsip-prinsip yang berlaku umum, diterapkan untuk memikirkan masalah-masalah khusus, ajaran agama yang berlaku umum dijadikan sebagai pangkal; untuk memikirkan prinsip-prinsip pendidikan yang khusus.
Sebagai contoh, teori pendidikan silam akan berangkat dari Al-Quran, sehingga ayat-ayat Al-Quran akan dijadikan landasan dalam keseluruhan system pendidikan. Abdur Rahman Shalih Abdullah (1991) membandingkan teori pendidikan Islam dengan teori sains. Ia mengatakan bahwa teori sains bersifat deskriptif dapat membantu pendidik tidak dipungkiri. Tetapi tidak mungkin dapat menjadi paradigm bagi teori pendidikan, karena dalam pendidikan, teori tidak sekedar menerangkan bagaimana atau mengapa sesuatu peristiwa terjadi. Fungsi teori dalam pendidikan adalah menjadi petunjuk perilaku peserta didik, dalam pendidikan Islam, nilai-nilai Qurani merupakan pembentukan elemen dasar kurikulum, dan sekolah berkepentingan membawa siswa-siswanya agar sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Praktik perilaku harus dinilai para pendidik, dan pemberian nilai tidak bisa dibatasi pada penemuan-penemuan ilmiah.
Lebih jauh Shalih Abdullah mengemukakan bahwa, jika kita menerima teori sains sebagai paradigma bagi pendidikan, berarti kita harus meninggalkan seluruh fakta-fakta metafisik (gaib) Al-Quran. Sains hanya berkepentingan dengan fakta-fakta yang dapat dilihat. Sains tidak mampu menyentuh elemen-elemen yang tidak dapat diobsesi dan diukur. Indera dan rasa bukan satu-satunya alat untuk memperoleh pengetahuan. Al-Quran merupakan “kitab wahyu” dari Allah, dan sains tidak akan mampu mengujinya secara empiris, dan secara keseluruhan. Surat Al-Baqarah ayat 3 yang mengungkapkan keyakinan orang mukmin terhadap segala yang gaib, mendahului referensi terhadap perilaku yang dapat diobservasi. Orang mukmin menerima system etika Islam yang bersumber dari Al-Quran, karena datang dari Allah Yang Maha Gaib, yang diyakininya sebagai system etika terbaik bukan hasil temuan empiris, bukan hasil eksperimen sains.
Teori pendidikan Islam merupakan teori yang terintegratif yang berdasarkan pada prinsip-prinsip Qurani. Teori pendidikan Islam tidak akan bertentangan dengan hasil-hasil sains, bahkan dapat menerima dan memanfaatkan bagian-bagian dari sains bagi pelaksanaan operasional pendidikan. Dalam hubungan ini Shalih Abdullah mengemukakan :
Jika prinsip-prinsip yang diderivasi dari bidang-bidang ilmu lain diadopsi ke dalam pandangan Qurani, maka tiada bakal muncul kontradiksi antara apa yang diajarkan mengenai penciptaan manusia pertama dimuka bumi dengan apa yang diajarkan biologi. Karena keseluruh prinsip terkait erat, teori pendidikan Islam dapat digambarkan sebagai teori yang terintegrasi, dimana prinsip-prinsip Quran membentuk intinya. Disebabkan Al-Quran mengandung satu kesatuan pandangan tentang manusia dan alam, teori pendidikan yang berdasar kepadanya harus pula begitu.

Al-Quran memberikan landasan pemikiran yang berkaitan dengan manusia, siapa manusia, dari mana manusia, dan mau kemana manusia, serta harus bagaimana manusia berbuat dalam kehidupan didunia ini. Dalam hal ini, Al-Quran menyediakan lapangan yang komprehensif universal tentang landasan dan tujuan hidup manusia, yang sangat bermanfaat bagi para ahli pendidikan untuk menyusun dasar dan tujuan pendidikan yang luas dan umum sifatnya. Untuk mengklasifikasikan tujuan tersebut kepada tujuan-tujuan yang lebih khusus, dan materi apa yang cocok pada tiap tingkat tujuan tadi, para ahli pendidikan dapat memanfaatkan temuan-temuan sains, seperti hasil temuan dalam psikologi, sosiologi, sains-sains fisik, dan cabang-cabang sains lainnya.
Teori pendidikan dengan pendekatan religi, hanya akan diikuti oleh kelompoknya, atau atau para penganutnya yang sudah meyakini dan mengimani kebenaran ajaran religi tersebut.

3. Pendekatan Multi Disiplin
Untuk menghasilkan suatu konsep yang komperhensif dan menyeluruh dalam mempelajari pendidikan kita bisa hanya dengan menggunakan salah satu pendekatan atau disiplin saja. Misalnya kita hanya menggunakan psikologi, sosiologi, filsafat, atau hanya dengan pendekatan religi. Pendidikan yang memiliki lapangan yang sangat luas, menyangkut semua pengalaman dan pemikiran manusia tentang pendidikan tidak mungkin kalau hanya dilihat dari salah satu aspek, atau dari salah satu kajian saja.
Jadi, pendekatan yang perlu kita lakukan adalah pendekatan yang menyeluruh (pendekatan holistik), pendekatan multi disiplin yang terpadu. Pendekatan filosofis, pendekatan sains, pendekatan religi, dan mungkin pendekatan seni, kita menggunakan secara terpadu tidak berdiri masing-masing secara terpisah. Antara pendekatan yang satu dengan pendekatan yang lainnya harus memiliki hubungan yang komplementer, saling melengkapi satu dengan yang lainnya.

5. Pendekatan dalam Penulisan
Tulisan dalam buku ini mencoba untuk mengkaji salah satu pendekatan di atas, yaitu pendekatan secara filosofis. Pendekatan filosofis jelas akan menggunakan landasan pemikiran filsafat. Filsafat yang berarti cinta akan kebijaksanaan dalam arti yang seluas-luasnya, merupakan pengetahuan yang menyangkut ide yang tinggi bagi manusia. Filsafat merupakan hasil pemikiran manusia ada semua aspek kehidupan dalam hubungannya dengan alam semesta. Berfilsafat berarti berpikir yang dilakukan manusia secara radikal, sistematis, dan universal. Berfilsafat dan hasil berfilsafat tersebut dapat diterapkan dalam aspek-aspek kehidupan manusia, termasuk dalam pendidikan.
Manusia mulai berfilsafat, apabila ia berpikir lebih teliti dan teratur untuk memecahkan masalah-masalah hidup dan kehidupan yang hakiki. Oleh karena itu, berfilsafat pada hakikatnya mengemukakan pandangan-pandangan yang menyeluruh, komperhensif, sampai keakar-akarnya tentang segala sesuatu.
Filsafat tidak hanya melahirkan pengetahuan baru, melainkan juga melahirkan filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan adalah filsafat terapan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang dihadapi. John Dewey (1964), seorang pragmatis, berpendapat bahwa, filsafat merupakan teori umum tentang pendidikan. Filsafat sebagai suatu sistem berpikir akan menjawab persoalan-persoalan pendidikan yang bersifat filosofis dan memerlukan jawaban filosofis pula.
Filsafat sebagai suatu sistem berpikir memiliki cabang-cabang yang terdiri atas: metafisika, epistemologi, dan aksiologi. Cabang-cabang tersebut dapat mendasari berbagai pemikiran tentang pendidikan. Metafisika memberikan sumbangan dalam membahas hakikat manusia pada umumnya, khususnya yang berkaitan dengan hakikat anak, yang bermanfaat dalam menentukan tujuan akhir pendidikan. Epistemologi sebagai teori pengetahuan, tidak hanya menentukan pengetahuan mana yang harus dipelajari, bertugas juga dalam menentukan bagaimana seharusnya guru mengajar. Aksiologi akan menentukan nilai-nilai mana yang baik maupun tidak baik, yang langsung atau tidak langsung dapat menentukan perbuatan pendidikan. Mempelajari metafisika perlu sekali untuk mengontrol secara implisit tujuan pendidikan dan untuk mengetahui bagaimana dunia anak.
Epistemologi (teori pengetahuan) diperlukan karena guru tidak hanya harus mengetahui bagaimana murid belajar, melainkan juga bagaimana murid belajar. Guru harus mengetahui persoalan belajar, karena dapat mengembangkan kurikulum, proses dan metode belajar. Aksiologi (teori nilai) sangat dibutuhkan dalam filsafat pendidikan, karena pendidikan harus menentukan nilai-nilai mana yang akan ditempuh, sebelum kegiatan dilakukan, nilai-nilai mana yang akan dicapai dengan proses pendidikan tersebut, disadari atau tidak, pendidikan akan berhubungan dengan nilai, dan guru seharusnya menyadari akan nilai-nilai tersebut.
Kajian dalam sejarah filsafat menunjukan, bahwa tidak hanya satu filsafat yang kita ketahui, melainkan banyak juga jenis aliran atau pandangan filsafat yang kita temukan. Dalam filsafat kita temukan ada aliran idealisme, realisme, materialisme, pragmatisme, dan sebagainya. Peranan filsafat yang mendasari berbagai aspek pendidikan dan system pendidikan, sudah barang tentu merupakan suatu sumbangan yang sangat berharga dalam pengembangan pendidikan, baik secara teoritis maupun praktis.
Hubungan antara filsafat dan pendidikan dapat ditunjukan dengan adanya kenyataan, bahwa persoalan-persoalan utama dalam filsafat merupakan landasan utama dalam pendidikan. Seperti siapa manusia, mau kemana manusia, untuk apa manusia hidup, akan dijadikan landasan untuk menentukan kebijakan-kebijakan dalam pendidikan.
Menurut Brubacher (1959), terdapat tiga prinsip filsafat yang berkaitan dengan pendidikan, yaitu :
1) Persoalan etika atau teori nilai;
2) Persoalan epistemology atau teori pengetahuan;
3) Persoalan metafisika atau teori hakekat realitas.
Untuk menentukan tujuan pendidikan, motivasi belajar, mengukur hasil, kita akan berhubungan dengan dunia nilai. Persoalan kurikulum akan berkaitan dengan epistemologi, sedangkan pembahasan tentang hakikat realitas, pandangan tentang hakikat dunia dan hakikat manusia khususnya, diperlukan dalam menentukan tujuan akhir pendidikan.
Diatas telah dijelaskan bahwa filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat terhadap pendidikan, sedangkan filsafat terdiri dari berbagai aliran/mazhab, maka dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran filsafat pendidikan, selaras dengan aliran yang kita temukan dalam filsafat.
Dalam tulisan ini penulis akan mencoba menguraikan berbagai aliran filsafat pendidikan, diantaranya idealisme, realisme, materialisme, pragmatisme, dan eksistensialisme. Selain itu, akan dibahas pula teori-teori pendidikan yang dilandasi filsafat idealisme, realisme, pragmatisme. Pembahasan ini pada dasarnya merupakan pengembangan pemikiran dari filsafat-filsafat pendidikan di atas. Teori-teori pendidikan tersebut diantaranya esensialisme, progresivisme, dan rekonstruksionisme.
Untuk memahami konsep pendidikan progresivisme dan rekontruksionisme perlu dipahami filsafat dan filsafat pendidikan pragmatisme. Karena, kedua konsep pendidikan tersebut merupakan pengembangan dan modifikasi dari filsafat pendidikan pragmatisme. Dalam mempelajari konsep pendidikan perenialisme perlu dipahami filsafat dan filsafat pendidikan idealism dan realism klasik, serta temisme dan Thomas Aquino. Untuk memahami konsep pendidikan esensialisme juga perlu dipahami dilsafat idealism maupun realisme, karena esensialisme dilandasi oleh filsafat idealisme atau realisme, dan mungkin juga oleh keduanya. Konsep-konsep pendidikan dari berbagai aliran diatas berbeda-beda. Misalnya perenialisme dan esensialisme lahir sebagai reaksi terhadap filsafat pendidikan progresivisme, pragmatisme. Tetapi esensialisme tidak ekstrim menolak progresivisme, berbeda dengan perenialisme. Perenialisme menolak semua pandangan progrevisme.
Dari uraian diatas, kita menyadari betapa beraneka ragamnya filsafat pendidikan. Bagi orang yang berkiprah dalam bidang pendidikan, kiranya perlu untuk memahami berbagai pandangan tentang pendidikan tersebut, untuk menambah dan memperluas wawasan tentang hakikat pendidikan, serta menambah dan memperluas wawasan tentang dunia dan manusia, khususnya anak didik dan peserta didik yang akan menjadi subjek pendidikan. Kita harus mampu melihat apa yang terbaik dari berbagai pandangan tersebut, terutama dalam rangka pengembangan filsafat pendidikan sendiri, yaitu filsafat pendidikan Pancasila.
Kita mempelajari berbagai system filsafat dan filsafat pendidikan, adalah dalam rangka menyempurnakan dan memperluas wawasan system pendidikan nasional yang bersumber dari falsafah bangsa, pandangan hidup bangsa, yaitu Pancasila. Jadi yang penting bagi kita, bagaimana mencari persesuaian di antara berbagai filsafat pendidikan yang berbeda, sesuai dengan pemikiran bahwa Pancasila merupakan falsafah hidup yang terbuka. Mempelajari berbagai filsafat pendidikan tidak harus dengan begitu saja menerapkan kedalam praktik pendidikan di Indonesia. Namun, kita harus dengan kritis (critical) mengkaji aliran mana yang sesuai dan cocok dengan falsafah pendidikan yang bersumber pada Pancasila